PT Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) kini bergerak melampaui identitasnya sebagai perusahaan telekomunikasi. Dalam dua tahun terakhir, perusahaan ini telah melakukan transformasi signifikan, memposisikan diri sebagai pemain utama di industri teknologi. Pergeseran ini menandai evolusi strategis dalam menghadapi lanskap digital yang terus berkembang.
Perubahan ini bukan sekadar pergantian nama atau fokus. VP Head of External Communication IOH, Eni Nur Ifati, menjelaskan bahwa fokusnya kini bergeser dari sekadar pembangunan infrastruktur teknis seperti menara Base Transceiver Station (BTS), jaringan, hingga kabel optik antar-pulau. Meskipun konektivitas masyarakat hingga ke pelosok tetap menjadi prioritas, inti dari transformasi ini adalah pemahaman mendalam mengenai peran koneksi sebagai penggerak kemajuan.
“Semua itu memang bertujuan untuk mengoneksikan masyarakat, bahkan sampai ke pelosok. Tapi bagi kami, isu utamanya bukan sekadar teknologi atau BTS-nya, karena itu sudah biasa. Yang ingin kami tekankan adalah koneksi adalah enabler,” ungkap Eni dalam sebuah media gathering di Puncak, Bogor. Pernyataan ini menegaskan bahwa teknologi telekomunikasi hanyalah sarana untuk mencapai tujuan yang lebih besar.
Fokus pada Dampak Sosial dan Ekonomi
Eni Nur Ifati menekankan bahwa teknologi seperti BTS, kabel laut, Wi-Fi, serta sinyal 4G dan 5G bukanlah tujuan akhir. Sebaliknya, IOH berupaya untuk memperluas dampak positif yang dihasilkan oleh teknologi tersebut. Fokus utamanya adalah pada peningkatan sosial dan ekonomi masyarakat, serta membuka akses bagi mereka yang sebelumnya memiliki keterbatasan.
Indosat AI North Star sebagai Arah Pengembangan
Salah satu pilar utama dalam transformasi ini adalah inisiatif Indosat AI North Star. Melalui program ini, IOH bercita-cita menjadi bintang penuntun dalam pengembangan dan adopsi kecerdasan buatan (AI) di Indonesia. Perusahaan ini ingin menjadi rujukan utama ketika berbicara mengenai solusi AI, pembelajaran AI, maupun penerapan AI, tidak hanya untuk sektor bisnis tetapi juga untuk memperkuat ekosistem nasional secara keseluruhan.
Eni Nur Ifati menggarisbawahi urgensi pengembangan talenta AI di Indonesia. Ia menyatakan bahwa pada tahun 2030, Indonesia diproyeksikan membutuhkan sekitar 12 juta talenta AI. Namun, saat ini jumlah talenta yang tersedia baru mencapai sekitar 300 ribu orang. Kesenjangan ini menunjukkan kebutuhan mendesak untuk mempercepat adopsi dan pengembangan AI di tanah air.
Tiga Peran Utama AI dalam Transformasi IOH
Untuk mewujudkan visi tersebut, IOH membangun tiga peran utama AI dalam strateginya:
AI Native Telco
Peran ini berfokus pada integrasi AI secara mendalam ke dalam operasional, manajemen, dan pengelolaan jaringan telekomunikasi perusahaan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas layanan yang ditawarkan.
AI Tech Company (TechCo)
IOH berperan sebagai perusahaan teknologi yang menghasilkan berbagai layanan berbasis AI. Layanan ini mencakup solusi cloud, keamanan digital, pencegahan penipuan (anti-scam atau spam), monetisasi data, serta keamanan siber.
AI Nation Shaper
Peran ini lebih luas, yaitu sebagai penggerak ekosistem AI dan fasilitator talenta AI di Indonesia. Tujuannya adalah untuk mempercepat lahirnya talenta-talenta AI lokal dan solusi AI buatan anak bangsa. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi konsumen teknologi AI, tetapi juga menjadi pencipta solusi inovatif.
Eni Nur Ifati menyampaikan harapan besar agar di masa depan, pusat-pusat pengalaman yang dikembangkan IOH tidak hanya menampilkan studi kasus dari luar negeri, tetapi juga menampilkan solusi AI yang diciptakan oleh para putra-putri terbaik bangsa Indonesia. Hal ini menjadi bukti konkret dari kontribusi IOH dalam memajukan kapabilitas teknologi nasional.