Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) Outer Jakarta menargetkan peningkatan jangkauan jaringan 5G secara signifikan di wilayah Jakarta Raya, Tangerang Selatan, Tangerang, dan Jawa Barat. Ekspansi ini dilakukan untuk mendukung lonjakan trafik data selama periode libur Natal dan Tahun Baru, yang diperkirakan akan berlanjut hingga Hari Raya Idul Fitri.
IOH menargetkan untuk mengaktifkan 1.500 situs jaringan 5G di wilayah tersebut. Angka ini akan menambah basis jaringan 5G yang sudah beroperasi saat ini, yang menurut SVP Head of Region Outer Jakarta Indosat Ooredoo Hutchison, Eric Danari, sudah mencapai sekitar 800-an situs. Penambahan ini akan terus dilakukan hingga akhir tahun dan menjelang Idul Fitri.
“Target kami hingga 1.500 site 5G, dan untuk Jakarta Raya tentu jumlahnya lebih besar. Saat ini yang sudah aktif sekitar 800-an, dan akan terus ditambah sampai akhir tahun dan menjelang Lebaran,” ujar Eric Danari dalam konferensi pers di Tangerang, Senin (22/12).
Eric menjelaskan bahwa perbedaan signifikan terlihat dari tahun sebelumnya, di mana pada tahun ini IOH telah berhasil meluncurkan lebih dari 800 situs jaringan 5G. “Bedanya dengan tahun lalu, tahun ini kami sudah meluncurkan lebih dari 800 site jaringan 5G. Tahun lalu belum ada,” paparnya.
Alasan di Balik Pengembangan Jaringan 5G
Keputusan IOH untuk memperluas jaringan 5G didasari oleh keunggulan inheren teknologi ini. Eric menyoroti bahwa 5G menawarkan kecepatan yang jauh lebih tinggi, latensi yang lebih rendah, dan kestabilan koneksi yang superior dibandingkan generasi sebelumnya.
“Mengapa 5G? Eric menjelaskan karena memang secara teknologi 5G itu lebih cepat, latensi atau jeda dalam suatu sistem yang lebih rendah dan lebih stabil,” jelasnya.
Keunggulan ini menjadi krusial bagi segmen pengguna yang sangat bergantung pada koneksi internet yang andal dan cepat. “Itu yang kami tawarkan, terutama ke segmen-segmen yang sangat bergantung pada koneksi stabil,” ujarnya.
Tantangan dan Potensi Pengguna 5G
Meskipun penetrasi perangkat yang mendukung jaringan 5G di Indonesia sudah cukup tinggi, Eric mencatat bahwa masih ada kesenjangan dalam pemanfaatan teknologi ini oleh pengguna. Banyak pengguna yang sudah memiliki ponsel 5G, namun belum mengaktifkan fiturnya secara optimal.
“Lebih lanjut, sebagian besar ponsel dengan berbasis jaringan 5G yang digunakan di Indonesia sebetulnya sudah banyak. Namun masih minim yang menggunakannya,” kata Eric.
Hal ini juga terkait dengan aspek edukasi pengguna. Beberapa perangkat memerlukan pengaturan manual untuk mengaktifkan 5G, sementara yang lain sudah otomatis. “Banyak yang sebenarnya sudah punya, tapi belum di-setting. Ada yang otomatis, ada juga yang masih harus manual. Jadi ini juga soal edukasi,” tuturnya.
Data internal IOH menunjukkan bahwa baru sekitar 15 persen dari total pengguna yang ponselnya sudah mendukung 5G, yang benar-benar telah mengaktifkan dan menggunakan jaringan 5G.
“Data kami menunjukkan, dari pengguna yang HP-nya sudah 5G, baru sekitar 15 persen yang benar-benar mengaktifkan 5G,” jelas dia.
Evolusi Teknologi Menuju Masa Depan
Eric menambahkan bahwa perkembangan teknologi telekomunikasi memang terus bergerak ke arah 5G. Ia membandingkan evolusi ini dari 2G, 3G, 4G, hingga 5G, yang semuanya terus mengalami peningkatan.
“Eric menambahkan, kalau perkembangan teknologi memang ke arah 5G. Dari 2G, 3G, 4G, hingga 5G, semuanya terus berevolusi,” ujarnya.
Dengan semakin banyaknya perangkat baru, termasuk di kelas menengah, yang sudah mendukung 5G, serta efisiensi spektrum yang lebih baik, teknologi ini mampu melayani lebih banyak pengguna dengan kualitas layanan yang lebih tinggi.
“Saat ini, banyak perangkat baru, termasuk kelas menengah sudah mendukung 5G. Dengan efisiensi spektrum yang lebih baik, 5G mampu melayani lebih banyak pengguna dengan kualitas yang lebih tinggi,” tuturnya.
Eric memprediksi ekosistem 5G akan terus berkembang pesat, baik dari sisi penyedia layanan operator maupun dari sisi ketersediaan perangkat.
“Eric menilai, ekosistem 5G akan semakin luas, baik dari sisi operator maupun perangkat,” katanya.
Bahkan, riset dan pengembangan untuk generasi selanjutnya, 6G, sudah mulai dilakukan di laboratorium oleh mitra-mitra IOH seperti Nokia, Huawei, dan Ericsson, meskipun implementasi komersialnya masih di masa depan.
“Bahkan saat ini pengembangan 6G sudah mulai dilakukan di laboratorium bersama mitra seperti Nokia, Huawei, dan Ericsson, meski belum bersifat komersial,” tegasnya.